Halo, apa kabar? Semoga sehat selalu, ya. Kali ini #KangOpelJalanJalan dapat tugas ke Pekanbaru, Riau. Yaa, memang bukan tugas kantor, tapi side job sebagai Motivator di acara Basic Training Leadership di Poltekkes Kemenkes Riau tanggal 10 dan 11 Maret 2018. Nah, seperti apa keseruannya? Yuk, gue ceritain!
Di suatu pagi, di bulan Februari, tiba-tiba hape gue berdering. Gue lihat, ada panggilan dari nomor tak dikenal. Ah, males banget nggak sih ngangkat panggilan begini? Sok-sok misterius. Tapi berhubung kodrat manusia sebagai makhluk 'kepo' itu kuat banget, jadi gue kepingin memastikan, siapa dan ada apakah gerangan?
"Halo?"
"Halo, Kak Novel?" sahut perempuan di ujung telepon. Wait? Siapakah doi?
"Siapa ya?" tanya gue memastikan.
"Ini Ejak, Kak..." sambungnya lagi.
"Oh, iya, iya. Ada apa Ejak?"
Sial, ketahuan kan nomernya nggak gue save.
"Kak Novel... Hihihi... Hihihi..." tiba-tiba dia cekikikan sendiri dong!
"Kenapa...???" tanya gue penasaran.
"Selamat datang di Riau...!" sahutnya girang.
"...."
Oke, butuh sepersekian detik bagi otak gue untuk mencerna, cuma sepersekian detik, nggak lama. Sampai akhirnya.... Gue teriak!
"SERIUSSSS?!!! ALHAMDULILLAH!"
Eittss... Tunggu, tunggu!
Netijen kebingungan? Oke gue jelasin. Jadi gue secara personal memiliki hubungan yang baik dengan teman-teman di Poltekkes Kemenkes Riau sejak tahun 2013. Sejak itu pula kami sering membangun komunikasi setiap kali bertemu di acara nasional maupun di media sosial. Pokoknya udah gue anggap kayak junior di kampus sendiri, lah. Sampai akhirnya, Ejak ini pernah bilang kalo dia pingin ngundang gue sebagai pembicara di kampusnya (sekitar tahun 2015) tapi nggak tercapai karena satu dan lain hal. Setelah tahun berganti, ternyata harapan itu membuahkan hasil! Gue bisa ke Riau, ketemu mereka di sana! Asli, seneng banget! Jadi pingin jogedh!
"Kapan waktunya?" tanya gue masih kegirangan!
"Maret, Kak."
"Siappp!"
Oke, segala macam prosesnya kayak birkorasi dan bla, bla, bla bakal gue skip. Sekarang, kita langsung ke hari keberangkatan!
Jadi, menurut boarding pass di tangan gue, waktu tempuh setelah take off dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta ke Bandara Sultan Syarif Kasim Li di Pekanbaru, Riau adalah satu jam empat puluh lima menit. By the way, gue baru pertama kali take off dari Bandara Halim yang tentu saja masih kalah besar dari Bandara Soetta. Awalnya sempat bingung harus kemana (karena gue udah terbiasa dengan Soetta) tapi karena banyak penunjuk arah di dalam bandara, dan gate-nya juga nggak banyak, so nggak bakal kesasar, deh!
![]() |
| Bandara Halim Perdanakusuma (Doc. Google) |
FYI guys, gue dari kantor langsung cusss ke bandara, jadi apalah itu mandi, nggak penting. Soalnya jalanan Jakarta itu susah ditebak! Gini, cuma ada dua kemungkinan kondisi jalan di Jakarta: macet atau macet banget! Apalagi gue nggak pernah memakai rute ke Bandara Halim. So, karena nggak mau ambil risiko ketinggalan pesawat, jadilah baju koko dan celana bahan masih melekat di badan. Cuci muka aja nggak sempat. Tapi asal ada parfum dan deodoran, bisa tetap memikat! (auto digebuk netijen)
![]() |
| Muka udah beler nggak layak edar! (Doc. Pribadi) |
Penerbangan malam hari sama sekali nggak membuat gue mengantuk. Gue punya kebiasaan untuk selalu duduk di samping jendela (baik itu mobil, bus, ataupun pesawat) meski di luar yang kelihatan cuma langit malam yang gelap gulita, asalkan dapat sandaran kalo ngantuk, itu udah cukup banget, kok! Hehehe...
Sekitar jam sepuluh malam, gue sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim Li dan disambut sama Rafli (Presiden Mahasiswa Poltekkes Riau), Aisyah dan Hafiffah dari BEM Poltekkes Riau. Kami pernah bertemu di Kongres Nasional FORKOMPI di Semarang tahun lalu. Setelah temu kangen sesaat, kami langsung menuju hotel.
Selama di perjalanan, yang gue lihat di kanan dan kiri itu adalah bangunan-bangunan tinggi seperti kantor atau hotel. Guys, ternyata Pekanbaru ini sekilas mirip banget sama Jakarta. Miripnya? Yaa, dari gedung-gedung tinggi yang gue bilang tadi. Jujur aja, selama gue berkunjung ke beberapa provinsi, daerah yang gue pikir tata kotanya mirip sama Jakarta itu cuma Surabaya. Oke, gue salah. Soal macet? Santai, Jakarta masih juara!
"Kang, udah ngantuk?" tanya Hafiffah yang duduk di kursi depan.
"Belum. Kenapa gitu?" sahut gue.
"Kita jemput Kak Ejak dulu, ya? Dia bilang tadi ketiduran. Hehe"
"Oh, boleh-boleh."
Sejujurnya, gue ngantuk banget. Banget. Di pesawat nggak bisa tidur. Kenapa? Jadi, meskipun udah puluhan kali terbang, gue tetep takut sama 'turbulance' atau goncangan yang biasa terjadi di pesawat. Sumpah, goyang dikit bangun, goyang lagi bangun, gimana bisa tidur?! Tapi bener aja, setiap kali gue naik pesawat ke Sumatera, pasti turbulance-nya nggak nyantai!
By the way, Ejak atau Rezalia Reffino ini adalah salah satu orang terdekat gue di nasional. Dia perempuan yang strong-lah. Udah berkali-kali disakitin pacar tapi tetap berdiri tegak menerjang badai. Kami kenal di Kongres Nasional FORKOMPI di Denpasar, Bali tahun 2014 silam. Sialnya, kami punya tanggal dan bulan lahir yang sama, which is, kami kembar beda tahun, beda bapak-ibu, beda kelamin pula. Pusing? Yaa nggak usah dipikirin.
Setelah jemput Ejak di rumahnya, akhirnya kami menuju hotel!
"Kang, udah ngantuk?" tanya Hafiffah yang duduk di kursi depan.
"Belum. Kenapa gitu?" sahut gue.
"Kita jemput Kak Ejak dulu, ya? Dia bilang tadi ketiduran. Hehe"
"Oh, boleh-boleh."
Sejujurnya, gue ngantuk banget. Banget. Di pesawat nggak bisa tidur. Kenapa? Jadi, meskipun udah puluhan kali terbang, gue tetep takut sama 'turbulance' atau goncangan yang biasa terjadi di pesawat. Sumpah, goyang dikit bangun, goyang lagi bangun, gimana bisa tidur?! Tapi bener aja, setiap kali gue naik pesawat ke Sumatera, pasti turbulance-nya nggak nyantai!
By the way, Ejak atau Rezalia Reffino ini adalah salah satu orang terdekat gue di nasional. Dia perempuan yang strong-lah. Udah berkali-kali disakitin pacar tapi tetap berdiri tegak menerjang badai. Kami kenal di Kongres Nasional FORKOMPI di Denpasar, Bali tahun 2014 silam. Sialnya, kami punya tanggal dan bulan lahir yang sama, which is, kami kembar beda tahun, beda bapak-ibu, beda kelamin pula. Pusing? Yaa nggak usah dipikirin.
Setelah jemput Ejak di rumahnya, akhirnya kami menuju hotel!
![]() |
| Megara Hotel Pekanbaru (Doc. Google) |
This is it, Megara Hotel yang terletak di Jl. Jenderal Ahmad Yani No.161, Pekanbaru ini yang akan menjadi tempat gue tinggal selama dua malam kedepan. Sampai di sini, Rafli dan teman-teman BEM Poltekkes Riau pamit karena ada beberapa hal yang harus mereka kerjakan. Tinggalah gue sendiri dan Ejak di kamar sebelah. Ah, hampir lupa. Ejak ini bakalan jadi pembicara juga di Basic Training Leadership besok. Selain sebagai alumni Poltekkes Riau, dia juga memiliki track record yang baik selama berorganisasi di nasional, dan itu turun ke adik-adiknya. Hmm, kalo gue ceritain bakal panjang, jadi kita skip aja. Sekarang saatnya.... TIDUR!
![]() |
| Tidurlah sebelum tidur itu dilarang (Doc. Pribadi) |
Day 1
Hari pertama di Pekanbaru diisi dengan nyanyi-nyanyi di kamar mandi. Aku mah apa, cuma penyanyi kualitas kamar mandi. Setelah rapi-rapi, ternyata gue baru sadar kalo kemeja yang gue pakai... Kekecilan! My God, gue pandangi perut buncit ini dengan seksama sambil mulai berpikir, gimana caranya supaya nggak keliatan kayak buntelan cucian pas lagi tampil di depan?
Coba netijen, beri gue petunjuk! Apa? Lu bilang tahan napas? Gini, panitia ngasih waktu lima jam dan gue harus tahan nafas selama itu? Siipp. Tolong ambulance!!!
Skip.
Jadi setelah selesai sarapan di hotel, kami dijemput oleh panitia dan langsung dibawa ke Kampus Utama Poltekkes Kemenkes Riau di Jalan Melur No. 103, Harjosari, Sukajadi, Kota Pekanbaru. Jujur aja, kampusnya lumayan luas, dan entah kenapa setiap Poltekkes yang gue kunjungi itu bagus-bagus kecuali kampus gue sendiri. Huhuhu...
![]() |
| Poltekkes Kemenkes Riau (Doc. Google) |
![]() |
| Logo Poltekkes Kemenkes Riau (Doc. Elvi Chairini) |
Berikut Susunan Acara :
1. Pembukaan
2. Motivasi Public Speaking oleh Rezalia Reffino
3. Motivasi Kepemimpinan dan Organisasi oleh Novel Firmansyah
![]() |
| Tari Persembahan Melayu (Doc. Pribadi) |
Tepat pukul setengah sembilan pagi acara dibuka oleh MC, setelah itu lima orang wanita (mahasiswi) berpakaian khas masuk ke dalam aula. Tari pembukaan! Salah satu bagian yang paling seru di setiap opening ceremony. Mereka menari 'Tari Persembahan Melayu'. Asli, tarian ini anggun dan memukau. Di tengah tarian, salah satu dari mereka menghampiri gue sambil membawa kotak kecil, ketika kotak dibuka, selembar daun yang udah dilipat-lipat dikeluarin dan dikasih ke gue. Eh, buat apaan, nih? Setelah gue perhatiin, ternyata Ibu Pudir dan Ejak yang duduk bareng gue di depan juga dikasih. So, gue nanya dong ke Ibu Pudir.
"Maaf, Bu, ini apa, ya?"
"Maaf, Bu, ini apa, ya?"
"Itu sirih." sahutnya.
"Oh, terus buat apa dikasih ke saya?" tanya gue makin bingung.
"Yaa, buat dimakan." katanya.
What the... *hati menjerit kecil*
Sebentar, sebentar! Ini gimana, sih ceritanya?! Seingat gue, di rumah yang makan sirih itu cuma nenek gue! Ini yakin harus dimakan? Asli, ini pikiran gue langsung berkecamuk. Di satu sisi gue nggak mau makan, di satu sisi gue harus menghormati adat di sini. Mampus lah!
"Mas, nggak dimakan juga boleh, kok. Hehehe..." Kata Ibu Pudir sambil terkekeh.
"Oh, iya, Bu. Hehehe..."
Demi Tongkat Neptunus, apakah mungkin Ibu Pudir melihat muka tertekan gue ketika dia bilang 'harus dimakan' tadi? Jadi nggak enak. Tapi gue selamat. Tapi nggak enak. Amsyong, masih berkecamuk pulak ini hati!
Singkatnya, acara hari ini berjalan lancar. Lancar banget malah! Peserta di hari pertama ini adalah seluruh mahasiswa non organisasi yang ada di Poltekkes Kemenkes Riau. Oke, maksud gue lancar itu baru dari sisi acara aja, belum dari sisi audience. Sejujurnya, kami minim interaksi (gue dengan mereka) entah apa penyebabnya. Gue udah berkali-kali lempar umpan tapi mereka sulit untuk menangkapnya. What the... Gue bukan lagi stand up comedy!
Demi Tongkat Neptunus, apakah mungkin Ibu Pudir melihat muka tertekan gue ketika dia bilang 'harus dimakan' tadi? Jadi nggak enak. Tapi gue selamat. Tapi nggak enak. Amsyong, masih berkecamuk pulak ini hati!
Singkatnya, acara hari ini berjalan lancar. Lancar banget malah! Peserta di hari pertama ini adalah seluruh mahasiswa non organisasi yang ada di Poltekkes Kemenkes Riau. Oke, maksud gue lancar itu baru dari sisi acara aja, belum dari sisi audience. Sejujurnya, kami minim interaksi (gue dengan mereka) entah apa penyebabnya. Gue udah berkali-kali lempar umpan tapi mereka sulit untuk menangkapnya. What the... Gue bukan lagi stand up comedy!
Gini guys, Basic Training Leadership itu pasti dan mutlak adalah komunikasi dua arah karena kita membangun mental dan inisiatif. Supaya apa? Supaya mereka berani bicara dan beraksi. Simple. Enggak? Oke, mungkin netijen bakal bilang "Ngomong doang gampang, Vel!".
Eh, denger ya, Usus Kelabang. Motivator itu ngasih motivasi. Tapi kalo yang dimotivasi nggak mau terima, yaa sampai mulut berbusa pun motivasi itu nggak bakal masuk. Jadi tiap kali gue ngasih umpan itu gue berharap mereka menangkap. Emang, sih akhirnya ditangkap juga. Tapi sulit!
Gini contohnya!
"Mana yang lebih penting, soft skill apa hard skill?" tanya gue.
Hening.
"Ayo, saya nggak mau nunjuk, langsung angkat tangan aja..." pancing gue lagi.
Hening.
"Ayo, nggak apa-apa salah, nanti kita cari jawabannya bareng-bareng..."
Hening.
Ah elah, gue jadi geregetan!!!
Sampai akhirnya gue melontarkan pertanyaan-pertanyaan ringan yang simple, kayak 'apa itu soft skill?' dan 'apa itu hard skill?' tapi masih enggan dijawab juga, guys! So, gue yakin banget SERIBU PERSEN mereka itu bukan nggak tahu, tapi TAKUT. Takut? Ya, takut salah jawab. Takut jadi pusat perhatian teman-teman dan panitia. Takut dikatain sombong. Mungkin. Atau malah nggak peduli sama sekali? By the way, kejadian seperti ini memang terjadi dimana-mana, nggak cuma di Poltekkes Riau saja. Tapi, gue nggak boleh kalah. Jangan sampai kejadian seperti ini malah membuat gue pesimis untuk memotivasi mereka. Satu lagi, mungkin, (mungkin loh, ya) karena audience hari pertama ini isinya mahasiswa non organisasi, maka wajar saja kalau daya saing mereka lebih rendah. Beda dengan mahasiswa organisasi. Hasrat mereka untuk aktualisasi diri amat sangat tinggi. Mereka bakal bersaing untuk mendominasi jawaban. Tujuannya? Yaa, untuk meningkatkan eksistensi dan pengaruh mereka. Iya, kan? Udah deh, tiada dusta di antara kita! Hehehe...
![]() |
| Ejak dan Om om yang sesek napas karena kemeja kekecilan. (Doc. Pribadi) |
Hari pertama selesai!
![]() |
| BEM Poltekkes Riau (Doc. Pribadi) |
Day 2
Hari kedua diawali dengan badan gue yang tiba-tiba nggak bisa bangun dari kasur. Becanda. Tapi bukan karena gue yang males, kasur gue aja terlalu posesif. Eh, bener nggak kasur bisa posesif? Iya, kan? Jadi setiap gue mau bangun tiba-tiba kasur ini narik gue kembali seolah ngomong "Ayo tiduri aku, tiduri aku, tiduri akuuu BGZD!!!"
Nah, posesif, kan? Yaa, meski akhirnya gue tetep harus bangun, mandi (ada jadwal konser selama satu jam di kamar mandi, Bro!), rapih-rapih, dan beresin isi koper. Yap, karena ini hari terakhir di Pekanbaru, jadi harus dipergunakan sebaik-baiknya!
![]() |
| Aku dinodai kasurku. (Doc. Pribadi) |
Guys, bicara soal hari terakhir, sebelumnya gue udah minta izin ke Rafli supaya bisa jalan-jalan dulu keliling kota Pekanbaru di hari kedua ini. Sumpah, jadwal gue di sini padat banget. Sejak awal gue emang nggak minta waktu buat jalan-jalan karena gue diundang ke sini buat jadi pembicara, bukan karyawisata. Profesional aja. Tapi, sungguh disayangkan kalo gue nggak sempat lihat-lihat beberapa hal di kota ini. Alhasil, setelah diskusi dan win-win solution dengan panitia, akhirnya gue bisa jalan-jalan di waktu Ejak presentasi. Enggak lama. Cuma sekitar dua sampai tiga jam aja. Oke, itu udah cukup banget, lah.
"Tapi di Pekanbaru ini nggak ada tempat wisata, Kak." kata Ejak sambil ngunyah makanannya.
"Yaa, nggak masalah ada atau tidak ada tempat wisata. Apapun yang ada di sini tetap saja nggak bisa saya temukan di Jakarta. Saya nggak setiap hari bisa ke sini!" tandas gue. Mantep nggak?
![]() |
| Ibu pejabat lagi sarapan. (Doc. Pribadi) |
Setelah sampai di kampus, gue sama Rafli tetap stay di bawah sedangkan Ejak dan Haffifah naik ke lantai atas. Obrolan renyah banyak terlontar di antara gue sama Rafli. Kami mengenang saat-saat pertemuan pertama kami di Semarang, sampai membicarakan betapa kami saling mengagumi satu sama lain. See? Organisasi menyatukan semua hal tanpa pandang usia dan dimana kalian tinggal. Cuma satu hal yang kami tahu telah melebur semua perbedaan itu. Yaitu semangat untuk membangun negeri kami, menjadi lebih baik lagi. Betul nggak, Rafli? Hehehe...
Setelah beberapa saat salah satu panitia BEM turun. Namanya Doni. Dia yang kedapetan tugas tambahan nganterin Om-om ini keliling kota Pekanbaru naik motor! Yuk, kita lihat kemana aja gue sama Doni jalan-jalan di Kota Madani ini!
1. Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru
![]() |
| Masjid Agung AN-Nur (Doc. Pribadi) |
Familiar dengan pemandangan ini? Yap, masjid megah berkubah hijau zamrud yang memiliki arsitektur menawan ini sekilas mirip dengan salah satu keajaiban dunia, Taj Mahal di India. Lokasinya di jantung kota membuat masjid dengan halaman yang sangat luas ini mudah untuk ditemukan oleh wisatawan. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan sebagai fasilitas pendidikan dari jenjang play group hingga SMA. Doni bilang, waktu yang paling tepat mengambil gambar di tempat ini adalah sore menjelang malam karena lampu-lampu akan menerangi masjid di setiap sudut dan membuatnya semakin indah di malam hari. Hmm, keburu pulang kalo nunggu malam!
2. Anjungan Seni Idrus Tintin
![]() |
| Anjungan Seni Idrus Tintin (Doc. Pribadi) |
Berikutnya saya mengunjungi bangunan bergaya melayu yang biasa digunakan sebagai tempat pertunjukan seni, sesuai dengan namanya 'Anjungan Seni'. Nama bangunan ini diambil dari nama 'Idrus Tintin' yaitu seorang seniman Melayu Riau. Sayang sekali, nggak ada pertunjukan apapun yang bisa gue lihat ketika datang ke sini. Hanya lapangan luas yang digunakan beberapa orang untuk olahraga. Apakah karena gue datang kepagian atau ada jadwal sendiri untuk pertunjukan di sini? I don't know. Oh iya, FYI guys, Riau adalah provinsi yang sangat kental dengan budaya melayu. Jadi jangan heran kalo bangunan-bangunan di sini banyak yang bergaya melayu, bahkan bahasa yang digunakan juga kental sekali dengan bahasa melayu. Yap, budaya Melayu bukan cuma milik negeri tetangga.
Setelah foto-foto sebentar, Doni kembali memacu motornya, menembus udara hangat Pekanbaru di kala pagi. Seperti yang gue duga, kota ini penuh dengan gedung-gedung bertingkat. Mayoritas yang gue lihat adalah hotel. Gue bingung, dong. Kalo orang Pekanbaru sendiri meyakini kalau tidak ada tempat wisata di sini, lalu kenapa bisnis hotel tumbuh subur? Gue tanya Doni, ah.
"Untuk perjalanan bisnis, Kang." jawab Doni.
Gue manggut-manggut "Iya, juga ya."
"Kang mau ke museum nggak? Museum-nya belum buka. Kita foto di depannya aja nanti."
Museum yang Doni maksud adalah Museum Sang Nila Utama. Salah satu tempat wisata sejarah yang memuat foto-foto tempat bersejarah serta tokoh-tokoh penting yang ada di Riau. Lengkapnya silahkan baca di google, ya.
![]() |
| Museum Sang Nila Utama (Doc. Google) |
Sejujurnya gue nggak mengunjungi museum ini meskipun Doni tetap menyarankan untuk berfoto di depannya saja. Awalnya gue mengiyakan, namun ketika sampai di depannya, entahlah, ada 'sesuatu' yang kutangkap dari dalam sana. Jadi kuurungkan niat untuk turun dan masuk ke dalam sana. Oke, saatnya ke pemberhentian terakhir!
3. Kantor Gubernur Riau
![]() |
| Kantor Gubernur Riau. (Doc. Pribadi) |
Aslinya, sedang tidak ada aktivitas kantor di hari libur ini. Jadi kami diperbolehkan masuk untuk mengambil beberapa gambar. Nah, seperti yang kalian lihat, betapa kental budaya melayu sampai-sampai Kantor Gubernur Riau menerapkan arsitektur serupa. Menurut Google, gaya arsitektur ini disebut Selembayung.
"Selembayung dalam bahasa Melayu Kampar disebut juga sulo bayuang, atau tanduak buang yang merupakan ornamen khas pada bangunan atap rumah di daerah Riau. Selembayung berbentuk hiasan ukiran yang terletak bersilang pada kedua ujung perabung bangunan. Bagian bawahnya dilengkapi dengan hiasan tambahan, biasanya berupa bentuk tombak terhunus yang menyambung kedua ujung perabung. " - Mbah Google.
Sama seperti atap Anjungan Idrus Tintin dan Poltekkes Kemenkes Riau. Nggak percaya? Cek lagi, deh!
Selesai foto-foto di Kantor Gubernur Riau kami langsung kembali ke Poltekkes. Di hari terakhir ini, peserta Basic Tarining Leadership adalah seluruh mahasiswa organisasi yang ada di Poltekkes Kemenkes Riau baik dari jurusan maupun pusat. Well, mari kita lihat bagaimana keaktifan mereka apakah akan berbeda dari peserta di hari sebelumnya, atau...
![]() |
| Gue gendut beud. (Doc. Pribadi) |
Ternyata oh ternyata, peserta hari ini melampaui ekspektasi gue. Banyak dari mereka yang siap menjawab setiap pertanyaan yang gue berikan. Organisator yang haus akan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik wawasan mereka. Walau nggak semua. Gue amati, hanya beberapa yang bersedia unjuk gigi, namun hal itu memengaruhi lingkungan di sekitar mereka. Aura persaingan sedikit demi sedikit makin terlihat. Yang tadinya diam, jadi punya keberanian untuk menjawab. Itu dia, rasa nggak mau kalah! Hasrat bersaing yang haus akan pengetahuan itu yang dimiliki seorang organisator. Gue nggak peduli apakah tujuan mereka menjawab agar terlihat hebat, panjat sosial atau aktualisasi diri, bodo amat. Apapun itu, mereka bisa menjadi contoh bagi yang apatis untuk bergerak, untuk mencoba sesuatu yang lebih dan lebih lagi!
Akhirnya nama-nama terbaik yang bisa gue dapat di sana seperti Furqon (Ketua HIMA Gizi), Reffina (Ketua HIMA Kebidanan) dan Dzaky (Ketua MPM Poltekkes Riau) yang selalu terlihat menggebu ingin bertanya dan menjawab. Inilah cikal bakal orang yang nantinya dapat mempengaruhi orang banyak agar bisa tumbuh sehebat mereka.
The truth is, masih ada beberapa dari organisator ini yang ketakutan ketika gue tanya atau malah tunjuk-tunjuk temannya yang lain. Kita memang tidak bisa menyalahkan mereka. Gue mencoba untuk tidak menggeneralisir mereka hanya karena tumbuh di organisasi yang sama. Kapasitas setiap orang berbeda-beda. Tapi nggak masalah. Semua memiliki perannya masing-masing.
Hari kedua ini ditemani oleh Rizka (Presiden Mahasiswa Poltekkes Riau tahun 2017) dan Retno. Terima kasih sudah mau datang! Acara diakhiri dengan banyak pertanyaan untuk gue dan Ejak. Super sekali! Oh ya, hari ini juga dihadiri bagian kemahasiswaan, loh. Agak grogi jadinya. Hehehe...
Berakhir sudah acara Basic Training Leadership tanggal 10 hingga 11 Maret 2018 di Poltekkes Kemenkes Riau. Sungguh panitia yang luar biasa. Terima kasih udah ngasih banyak oleh-oleh! Hehehe... Terima kasih sudah memberi banyak pengalaman dan kesempatan bertemu orang-orang hebat di sana. Sukses selalu Rafli dan kawan-kawan hingga akhir jabatan. Poltekkes Kemenkes Riau akan selalu di hati. Sebab kalian adalah harapan-harapan kami di nasional. Jangan patah semangat dan terus berkembang!
Teruntuk Ejak, akhirnya memang datang saat dimana kita berdiri di atas panggung yang sama dengan keadaan yang setara. Terima kasih atas kontribusi yang masih diberikan untuk adik-adikmu di Poltekkes Riau ini. Jangan pernah berhenti. Tetap jadi panutan!
Saatnya pulang ke Jakarta! Sampai jumpa lagi di lain kesempatan!
![]() |
| Hari kedua, (Doc. Pribadi) |
![]() |
| Terima kasih Rafli. (Doc. Pribadi) |
Teruntuk Ejak, akhirnya memang datang saat dimana kita berdiri di atas panggung yang sama dengan keadaan yang setara. Terima kasih atas kontribusi yang masih diberikan untuk adik-adikmu di Poltekkes Riau ini. Jangan pernah berhenti. Tetap jadi panutan!
Saatnya pulang ke Jakarta! Sampai jumpa lagi di lain kesempatan!
![]() |
| Nyampe larut banget di Soetta. (Doc. Pribadi) |
Galeri
![]() |
| Retno, Rizka, dan... Ya Allah tembem. (Doc. Pribadi) |
![]() |
| Poppy, Fakhriza, Ejak, Opel, Nisrina (Doc. Pribadi) |














+@.jpg)






